Finale

Thursday Jul 28, 2011

Bukan, bukan finale mau tutup blog kok… tapi finale atas satu hubungan pertemanan yang sudah berjalan selama lebih dari 11 tahun.

Hubungan yang ‘hampir’ berakhir ini juga aku pernah tulis disini. Mungkin kalau pada baca postingan tadi bingung, smiley apaan sie yang sampe bisa bikin putus temenan? Yaaa, aku juga bingung mau ceritanya gimana tapi sesuai ama postingan itu ga jadi tuh putus pertemanannya. Akulah juaranya lah kalau KEUKEUH.

Tapi untuk yang kali ini, totally FINALE deh. Segala argumen, bujukan, dan rayuan udah ga mempan. Aku sempet sebel dan marah (masih malah) tapi terus aku pasrah dan mencoba iklas (sembari menggerutu sedikit, masa sie rela ilang temen??? dduuuhhh..) karena mikir masa kita mau maksa orang yang udah ga mau temenan ama kita untuk tetep temenan juga, ga mungkin kan ya.

Jujur, aku sedih, karena temen ini beneran temen yang baik (sebaikbaiknya temen deh, and I am so grateful I have the chance to be friended with this person). But there’s something that I can’t share here that is the biggest obstacle in our relationship. No matter how hard I tried to explain that whatever that thing is, isn’t worth loosing a friend. But obviously this person has other argument. So, as of now I am officially loosing one good friend.

I am the super persistent and KEUKEUH person that I know, but for this matter, I will try my best not to be hardheaded and persistent, I will surrender to his will and simply wish him the best. Hopefully this break up is the best for him (even though I know it’s not the best for me).

NOTE:
For my former best friend (I don’t know if you ever read this), I wish you luck and happiness in the future and truly hope that you’ll be as great as you always want. Thank you for everything that you share with me the last 11 years. Thank you for being such a great friend. It is definitely breaking my heart to loose a good friend like you. I am sorry if in duration of our friendship, I have any wrong doing (which is quite many I know), I am nothing but human.


how well do you know yourself?

Tuesday Jan 19, 2010

I keep repeating that question on my head ever since this morning. I was just found out something about myself. Turns out I am who I think I am… at least on the eyes of several person.

Sometimes I want to say “sr**w you…all of you”. But I can’t. I always try my best to fit in, in any kind of situation. Try my best to be a likeable. Lately I feel that it is nearly impossible trying to do something to please most people if not everyone 🙁 .

Call me naive or whatever, but that’s just how I am. I like to please everyone around me so then they would like me. Is it a wrong thing to do? Maybe. But again, that’s just how I am.

This morning I got a surprise from one of my best friend that said, people said some bad stuff about me. I mean, I am not a new comer when it comes to office gossips, but still it hurt listening that some peole thinking or worse, talking bad about you right? As for me, it will always feel hurt when you have someone badmouthing you 🙁 .

I don’t like to have the feeling I am having right now. To tell you the truth, it is kinda like s**w with my head. Not a little…quite a lot I think. Like I said, I would really like for people to like me. I will go around in a way if I think that’s what it takes so people would like me.

But maybe that’s the problem. I mean, you don’t have do anything you don’t have to to make people like you. Just be who you are. And you can’t expect all people to like you. People have all different kind of reason for liking other people and that goes for the opposite.

So maybe if I can accept that fact, I will not try to change myself so I can be whoever everyone wanted me to be. Just be myself. Try to love myself for who I am. Will not change anything so everybody would like me. I guess if I can be someone who love themselves then I really do know myself.


Tara – tegar atau kepala batu?

Monday Jan 18, 2010

Kemarin waktu baca-baca blog-nya Okke, si sepatu merah aku sempet baca postingan tentang cyber bully. Postinganya sie njelasin bahwa cyber bully itu bukan cuma orang-orang yang ngasih komen-komen kejam di hampir setiap postingannya, tapi juga yang ikutan ketawa walaupun ngga ikutan komentar. Duuuh… itu mah semua orang yang masuk ke blog-nya orang dan ngetawain udah termasuk jadi bully dong ya??

Untuk aku sendiri, waktu pertama kali liat blog-nya si Tara itu terus terang pastinya ikutan ketawa, secara isi blog itu bener-bener emang bisa bikin kita ketawa. Isinya aneh. Kalo ada yang nanya, “Emang yang aneh itu udah pasti lucu?” Untuk kali ini jawabannya iya. Blog itu bikin kita gregetan pengen ikut komentar, ikut ngebenerin postingan dalam bahasa Inggris yang acak-acakan.

Tapi aku ga ikutan komen kok (walau ngaku masih tetep ikut ngetawain, which according to Okke it also makes me a bully too), karena menurut aku, komen-komen di blog itu banyak banget yang keterlaluan. Berdalih memberikan saran, tapi tetep menghina dina si Tara.

Yang bikin aku menggelengkan kepala itu adalah, ketegaran (atau bisa juga dibilang ke-kepala batuan) si Tara. Waduh, kalo aku jadi dia, mungkin udah lama berenti nge-blog atau kalo ga se-ekstrim itu palingan ganti nama blog-nya dan dipublish lagi.

Tapi ngga dong ama yang namanya Tara ini. Alhamdulillah postingannya lumayan banyak, walaupun hinaan udah bertubi-tubi bertamu di blog-nya. Sebenernya sie postingannya lumayan keren selama dia ga menampilkan foto-foto dirinya yang di awali dengan bahasa inggrisnya yang super acak-acakan itu. Pemilihan foto-foto fashion atau music atau selebriti atau apapun selain foto-fotnya tadi itu. Karena sebenernya sense of fashion-nya, dalam hal pad padan gambar ya, lumayan kok. Tapi jangan sampe dia disuruh milih outfit untuk dipakainya bergaya terus diupload ke blog-nya, aduuh.. ampuuuunnn…

Maksud aku nulis postingan kali ini tuh sebenernya cuma mau ‘mengagumi sekaligus jealous’ ama kegigihannya si Tara untuk mengejar dan meraih impian-nya yaitu eksis di dunia fashion. Dengan segala keterbatasan yang dia punya, baik dari segi penampilan, pendidikan maupun materi tapi tetep usaha. Aku acungin 4 jempol untuk usahanya, kegigihnnya, ketegarannya, tapi sekaligus kesel liat kebebelan dankekeraskepalaannya yang dengan keukeuh tetep aja ga mau belajar memperbaiki bahasa inggrisnya yang super minim dan ngubah gayanya yang aneh.

Tapi, blog-nya si Tara itu udah kayak drugs, setiap hari pasti mesti balik liat untuk baca. Entah itu hanya untuk baca postingan bahasa inggrisnya yang amburadul, setengah berharap bisa liat sedikit perubahan atau bahkan peningkatan dari bahasa inggris-nya atau sekedar pengen ngetawain foto-foto anehnya itu…..heheheheheh


cerita tentang kekesalan

Wednesday Nov 18, 2009

“Seharian ini, engga banget”
Begitu kurang lebih status seorang teman di jejaring sosial twitter yang lagi nge-trend akhir-akhir ini.

Penasaran aku jadinya, secara aku kenal kalo dia ga seperti itu. Seengganya kalo pun lagi kesal, ga lantas mengungkapkan uneg-uneg ke tempat umum yang kemungkinan bisa dibaca orang banyak.

“Tumben, biasanya kamu Mr. Optimis dengan segala positive thinking”
Begitu kurang lebih pesan yang aku tulis kepadanya. Secara privat tentunya.

Langsung dia bbm aku, coba untuk njelasin kenapa sampe pasang tulisan itu di twitter. “Kesel” katanya, karena ngerasa apa yang dia kerjakan hari ini rasanya ga ada yang bener, salah semua.

Lalu aku komentar, “ga pa pa sie sebenernya tulis ato ngomel tentang rasa kekesalan yang kita rasa, it means that u are human. Masa punya rasa kesal terus dipendam ajah. Makanya kalo lain kali, aku ngomel masalah kerjaan atau apa dan siapa yg berkaitan ama kerjaan, jangan lantas nyuruh aku untuk berpikir positif dan ngga buang energi untuk marah-marah. Karena itu manusiawi.”

Ngomel atau misuh-misuh soal rasa ga suka itu sie sah-sah aja kalo menurutku. Sekali lagi, itu nunjukkin kalo kita manusia yang pasti punya rasa sebel, seneng, kesel, marah, sedih dan lainnya. Temenku sie bilang, “ya ga pa pa sie, tapi bedanya aku ama kamu, marah aku belum sampai makan korban”

Duuh, ampe kaget baca message bbm tadi. Emang kapan aku marah2 sampe makan korban ya?? Ternyata maksud temenku, kadang aku kalo pas marah suka lupa ngeluarin kata-kata yang bisa bikin sakit hati orang lain.

Abis mau gimana lagi ya? Kayaknya kalo lagi kesel gitu ya mungkin pelampiasannya ya ngomel dan sebel banget dong tentunya kalo lagi ngomel malah dinasehati soal hal-hal standar yang sebenernya kita udah ngerti, jadi kesannya nasehatnya bakalan basi aja gitu. Seengganya untukku.

Karena menurut aku, marah-marah itu ngga berarti kita ga bersyukur atas keadaan kita atau mengeluh. Kadang malah ga ada hubungan sama rasa syukur atau keluh kesah sama sekali. Ngomel ya murni ngomel aja, supaya rasa di hati ini ga jadi makin sebel or kesel. Bisa jadi ngomelnya cuma supaya unek-uneknya keluar aja. Daripada dipendam bisa jadi tambah sakit hati. Terus terang, aku sie lebih milih marah-marah daripada sakit hati.

Tentunya temenku juga punya pendapat sendiri soal misuh-misuh tadi, jadi kita sedikit berdebat tentang gimana, sampe akhirnya kita sama-sama sadar kalo gimana cara pelampiasan rasa kesal tuh ya customize masing-masing orang. Ga ada cara yang paling benar atau salah. Karena kan masing-masing orang pasti punya kadar yang beda untuk mengatasi masalahnya.

Mungkin memang sudah kodratnya kaum pekerja kayak aku dan juga temen-temen lain, yang masih punya atasan, pasti akan ngalamin masa-masa kesel kayak gitu. Ngerasa ga dihargai atau kadang malah dianggap ga bisa kerja. Jadi rasa kesal, marah, sebel dan perasaan ga enak lainnya kayaknya lazim-lazim aja tuh dirasain. Gimana cara kita nge-handle ya terserah kita… Apa kita akan ‘makan’ korban ato malah ‘makan’ ati??? The choice is yours my friend. Yang pasti sie… jalanin apa yang terbaik aja menurut mu…insya Allah terbaik juga hasilnya


perahu kertas – nya Dee

Monday Oct 12, 2009

Baru aja kelar baca novel-nya Dee, perahu kertas judulnya. Mungkin udah banyak yang baca duluan, secara sebelum berbentuk novel gitu dia terlebih dahulu berbentuk digital pada April 2008. Ketinggalan? Mungkin ya, but better late than never kan?

Terus terang, awalnya aku enggan baca karya dari Dewi Lestari, karena menurutku karya-karya nya terlalu ‘berat’ untuk otakku yang cuma segini. Aku suka sekali membaca, terutama novel. Tapi semua koleksi novelku rata-rata termasuk dalam kategori yang ringan dan mudah dibaca walaupun ga baca teenlit juga sie.

Selain merasa terlalu berat, aku juga agak ‘sombong’ kalau harus baca novel berbahasa Indonesia. Bukan apa-apa, sejak 16 tahun lalu, aku memang sengaja mengoleksi (atau mengkoleksi sie??) novel-novel berbahasa Inggris, dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris. Walaupun begitu, aku tetap ngikutin kok novel-novel keluaran penulis Indonesia. Biarpun jarang beli, tapi kalo memang bener-bener bagus sie pasti dibaca secara tetep bisa minjam kan?. Lucunya, saking lebih banyak baca novel berbahasa Inggris, pas lagi baca novel penulis lokal, otak aku suka sibuk sendiri gitu. Sibuk nerjemahin jadi bahasa Inggris… hehehe.. emang, manusia aneh :-).

Nah, waktu perahu kertas mulai rame dibicarain orang-orang, aku tuh ragu-ragu antara mau baca atau ngga. Secara sekali lagi, karena ketakutan nanti isinya akan sangat berat dan aku akan kecewa untuk kesekian kali-nya. Males aja baca kalo pada akhirnya hanya akan jadi kegiatan yang buang waktu.

Tapi ketakutan buang waktu sama kepala yang penuh translate-an ternyata ga bisa ngurangin rasa penasaran, terutama setelah ada teman yang bilang, “Kayaknya sie kamu nangis kalo baca perahu kertas”.

Denger temen ngomong gitu, langsung aja kan kepengen tau, apa betul ceritanya sedih? Kok aku dianggap bakalan nangis? *padahal kayaknya sie aku emang sensi aja.. jadi kemungkinan nangis itu lebih pasti*. Walaupun begitu, kok masih ga rela ya buat beli, masih setengah hati gitu.

Rasa penasaran makin membludak setelah ada status penulis yang aku suka di twitter, yang bilang seperti ini, “Aduuuuh, klien kok bolak balik nelepon sie?? aku tuh lagi siap-siap nangis baca perahu kertas, sabar kenapa sie?” Kurang lebih gitu deh statusnya yang membuat aku tambah kepengen baca.

Akhirnya aku putusin untuk nyoba baca, walaupun masih merki karena tetep ga mau keluar uang untuk beli. Aku pinjam sama abangku :-), yang bilang kalo aku bakalan nangis kalo baca, hehehehe… adik yang merki.

Mungkin karena masih setengah hati, hari pertama baca masih setengah ogah-ogahan gitu bacanya. Tapi satu yang aku catat, bahasanya enak, mengalir dan ringan. Hari kedua dan ketiga masih belum nambah jumlah halaman yang aku baca. Kayaknya wegah gitu, males banget.

Tapi akhirnya mulai deh semangat baca, mulai menginjak halaman ke 57, dimana dengan lugas, Dee berbicara tentang harapan antara dua manusia di Bulan, Perjalanan dan Kita.

Selanjutnya, hampir aku ga pernah nutup buku. Kecuali untuk bobo. Agak merasa berdosa juga, secara anak ngajakin main jadi reseh secara perhatian lagi tercurah semua ke buku.

Saking ga mau rugi plus ilang momen-nya, aku terus baca meski sembari teriak-teriak kesakitan karena dipijit. Terus lembar demi lembar itu aku lahap dengan penuh penasaran sampai akhirnya mata ini menyerah sekitar jam setengah satu malam. Sadar karena besok pagi mesti kerja, setengah hati banget aku tutup bukunya.

Paginya, saking udah pengen buru-buru kelar baca, aku sampe nyuri-nyuri waktu kantor buat nerusin baca. Akhirnya, alhamdulillah kelar juga. Terus bbm temen untuk bilang “pengaruh buruk udah pinjemin perahu kertas, secara sekarang ngantuk akut”

Kesanku setelah baca perahu kertas pastinya, BAGUS BANGET…. BANGET BANGET…. Ngga ngerti apa karena gaya bahasa yang menurutku sangat mudah dan lugas, atau kesederhanaan cerita yang justru menjadi daya pikat yang membuatku tak rela menyudahinya. Entah apa dan terus terang, aku sedikit ga peduli, karena perahu kertas bener-bener sudah memuaskan keinginanku untuk membaca novel berbahasa Indonesia, bahkan mungkin lebih dari puas.

Ada satu kutipan dari buku itu yang menurutku bagus banget, “Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya” yang ada di halaman 427. Aku bilang bagus karena alhamdulillah aku sudah ketemu ama orang itu dan dia adalah suamiku. I really want to give him everything he wants even if he doesn’t even know it that he wants it.

Mungkin itu alasan utama kenapa aku suka sekali sama ‘perahu kertas’-nya Dee, karena aku sudah menemukan ‘orang’ yang dimaksud itu… :-).


manusia ~ mahluk penuh kebiasaan

Friday Feb 27, 2009

Lagi teringat beberapa kejadian yang berhubungan sama kebiasaan. Kadang kita sebagai manusia itu selalu menganggap kalo sudah kebiasaan itu pasti susah dirubah. Kita sering memaklumi, karena kita berpikir, ‘ya udah, emang biasa seperti itu ya mau diapain lagi?’.

Mungkin kadang aku juga jadi salah satu yang berpikir seperti itu, tapi ada beberapa kejadian yang bikin aku berpikir juga, ‘masa sie sampe segitu biasanya sampe ga bisa dirubah sama sekali??’

Kenapa aku tautau ‘ngomel’ soal kebiasaan? Karena kemaren ada kejadian yang membuat aku ga enak hati.

Jadi gini, hampir setiap hari, aku sholat pasti setelah jam makan siang, ya sekitar jam setengah dua ampe jam setengah tiga-an lah. Salah satu alasannya, supaya rest roomnya ga terlalu penuh. Tapi karena jam penuhnya rest room itu ya berkisar persis sebelum waktu aku, jadi kondisinya mengenaskan. Berantakan ga karuan. Kotor dan jorok. Wastafel penuh ama air. Pokoknya intinya ga karuan.

Nah, kemarin itu aku agak sedikit ngedumel. Tanpa sadar suaranya lebih keras dari yang aku mau. Kebetulan yang ada di rest room itu cuma aku sama si mbak cleaning servicenya. Aku ‘ngomel’ gini ”idih ini perempuanperempuan kok jorok bener sie, sampe pada kotor gini”. Kurang lebih gitu eh ngomelnya. Si mbaknya mungkin denger, tapi ga lengkap kali, jadi dia mbales bilang, ”Ya maklum aja bu, namanya juga pegang 2 lantai”.

Aku sempet sedikit bingung, kok si mbak ngomong gitu. Untung langsung ngeh terus aku bilang, ”Gak kok mbak, saya bukan mau nyalahin mbaknya. Ini kan rest room ramerame, yang pake perempuanperempuan, cantikcantik lagi. Pendidikannya juga tinggitinggi, tapi kok jarang sekali (aku ga bilang semuanya ya…. Tapi ratarata sie kayaknya) ada yang mau mbenahin bekasbekasnya. Masa abis cuci muka dan sikat gigi, wastafelnya dibiarin basah, kan kesian dong orang yang pake wastafel setelahnya, bajunya bisa basah. Mbok ya bersihin sebatas yang habis dia pake aja kan ga dosa”. *jadi ngomel panjang deh aku*

Si mbaknya terus bilang gini, “Ya biasa lah bu, mungkin dipikirnya kan itu bukan pekerjaannya. Dirumah juga udah ada yang ngerjain, tinggal suruhsuruh aja. Maklumlah Bu”.

Ya aku diem aja dibilangin gitu, tapi tetep deh, kalo menurut aku, namanya perempuan itu mesti resik *bersih*. Mungkin karena itu hasil didikan Mama-ku juga dulu. Aku juga ga mau sok ngaku kalo aku perempuan paling bersih or paling rajin, tapi ya ampun… susah diungkapkan deh. Maksudnya, kita kan tinggal menjalankan apa yang sepantasnya. Ga mau juga kan kalo pas mau pake wastafel terus basah bajunya. Pastinya ngomel kan? Mau diomongin atau cuma nggrundel dalam hati, tapi pastinya kan pengen dong kalo orang yang sebelumnya itu bersihbersih sedikit, minimal tempat yang baru aja selesai dipake-nya? *tetep ngomel hehehehehe*

Tapi emang mungkin aku belum berani ngomong ‘kenceng’ soal kebersihan ini. Paling hal yang bisa aku lakukan adalah, ya mbersihin wastafel yang baru aku pakai, supaya orang setelah aku akan nyaman pake-nya. Biar deh, yang penting aku tau, kalo perempuanperempuan yang aku lihat pada cantikcantik, bersihbersih, rapirapi dan pinterpinter ternyata ya kurang resik, hanya karena mereka pikir tugas bersihbersih wastafel itu udah ada yang kerjain.

Nah, sebenernya sikap aku itu juga merupakan bagian dari kebiasaan manusia, yang serba memaklumi kebiasaan orang lain ~ tanpa pandang apakah kebiasaan itu baik ato ngga ~ yang penting dimaklumi dulu. Abis gimana dong?… Aku juga bingung mau ngasih tau-nya gimana, secara kalo menurut aku, perempuanperempuan itu kan udah pada besar semua, masa sie hal dasar kayak gitu aku yang mesti ngajarin. Ntar disangka sok bener dan sok rajin lagi. Sekarang sie kita kasih contoh aja deh, kalo mereka ngeh alhamdulillah, tapi kalo ngga ya sudahlah. Selama itu ga terjadi dirumahku, ya susah juga mau rawa riwi kan… 🙂


me love this theme

Saturday Dec 27, 2008

As you can see, I have a new theme for this blog and I just looooove it. After struggling for quite a while trying to upload this theme, and screwing here and there. Even manage to make this page into an error for a few days, finally I can use this theme with a lot of help for my best buddy….

I like this theme coz I think it’s kinda represent the kinda blog I want..hehehe. I don’t know if it make much sense or not, but at least to me it is.

Hopefully with this theme, my ideas will flow like water on the mountain. Coz trully I don’t want to disappointed a very nice friend of mine who always said that I should focus on the content more than the accessories, but hard headed as I am, you know which one I always choose right?…

With this post, I’m gonna say once again, ”Thank you ya, for helping me uploading this theme”…..


attitude problem

Friday Dec 19, 2008

Kirakira 2 minggu yang lalu, ada kejadian yang lumayan bikin kesel. Sebenernya sie ga big deal banget, tapi secara itu ada di wall FB aku, which means the public will see, aku sebeeeeelll banget jadinya.

Seperti yang udah pada tau, sekarang banyak sekali situs networking yang bisa bikin kita ketemu lagi sama tementemen dari jaman baheula, entah itu friendster ataupun yang lebih gress lagi yaitu Facebook.

Terus terang aku seneng sekali maenan fesbuk, secara bisa ketemu sama tementemen yang emang udah tahunan bahkan puluhan tahun ga pernah ketemu. Banyak banget keuntungannya, secara sekarang aku udah bisa menjalin relasi kembali dengan tementemen SD yang udah lebih dari 20 tahun lalu aku tinggalkan.

Tapi bagai dua mata uang logam yang selalu bersisian, kalo ada keuntungan, pasti ada kerugiannya. Sebenernya sie, ga terlalu merugikan, hanya bagaimana cara kita melihatnya aja. Tapi pada saat kejadian itu sie, untukku termasuk hal yang amat merugikan.

Gimana ngga merugikan, ada seorang temen lama yang kasih komentar yang menurutku tak sepatutnya di taruh di public space. Tapi ya gimana ya, cara orang ber sosialisasi kan emang berbeda satu dengan lainnya. Untuk orang yang satu itu, entah gaptek, entah emang sengaja nulis hal seperti itu ditempat dimana orangorang PASTI baca dan if you ask me, the comment is rather rude… giman coba menurut kalian kalo tibatiba di wall kalian ada tulisan seperti ini

Read the rest of this entry »