Tegar…

Wednesday Nov 25, 2009

Kemarin, aku makan siang sama temen SMA. Ga kerasa, kita itu udah ga pernah ketemu dari waktu luluslulusan SMA. Paling dulu pernah ketemu cuma haihai-an ajah. Ga pernah yang benerbener duduk lebih dari satu jam dan cerita panjang lebar tentang kejadian yang udah terjadi dikehidupan kita berdua (*tsah…hehehe…bahasanya euy).

Nah, seneng banget kan kmaren akhirnya bisa ketemuan dan ngobrol panjang lebar soal hidup kita berdua. Ngga kerasa banget kan, kalo kita udah ga jaman SMA dulu lagi. Waktu serasa berlari meninggalkan kita. Kalo lagi inget gini rasanya takut banget ya, sama kehidupan yang berlalu dengan cepat, sementara kayaknya kita gitu-gitu aja.

Tuker cerita sama temen, siapapun itu memang meyenangkan. Ini lagi temen yang memang sudah ga kedengeran beritanya sejak kita selesai SMA dulu. Seru banget bertukar ceritanya. Banyak rasanya cerita yang mau di-share. Pengennya sie terbatas hanya untuk cerita-cerita yang seru dan bahagia aja. Tapi seperti hal-nya hidup, ada ups and down-nya, tentu ceritanya juga ada yang seru gembira dan ada yang seru sedihnya.

Tapi makan siang kali ini, mungkin waktunya untuk yang sedih-sedih dulu. Temanku cerita tentang suka duka pernikahan yang udah dia jalanin selama kurang lebih 10 tahun. Kebetulan aku juga kenal sama suaminya. Malah kenal ama suaminya duluan baru sama dia. Suaminya itu temen ku semasa smp dan sma di Bogor. Mereka berdua ketemu dan mulai pacaran juga waktu masih sma dulu. Kalo diinget-inget sie, kayaknya mereka bisa dibilang pasangan yang lumayan cihuy dan serasi deh. Tapi itu kan dulu… Jaman pacaran… Dimana ada istilah, masa pacaran semuanya indah, dunia serasa milik berdua, yang lain numpang *hehehehe garing yak*

Mungkin memang dalam setiap pernikahan itu, pasti ada aja masalah, karena menyatukan 2 kepala untuk satu kata itu emang susah. Kuncinya tentu gimana caranya kompromi. Kapan harus ngotot dan kapan harus ngalah. Apalagi dijaman modern kayak sekarang ini. Walau hakikatnya istri harus nurut kata suami, tapi tetep harus ada kesepakatan yang di pegang berdua supaya ga ada yang ngerasa bisa semena-mena atau tersakiti.

Waktu aku duduk dengerin cerita temen ku itu, aku sampe kaget. Melongo. Bengong dan kehabisan kata-kata untuk berkomentar. Cuma paling sesekali aku kasih komentar, ‘masa sie???’

Sebagai seorang perempuan, denger curhat temen tentang pernikahannya yang bisa dibilang jauh dari happy, rasanya lebih menyayat hati deh. Kebayang langsung gimana kalo gini dan gimana kalo gitu…. Semuanya langsung dibandingin ama kehidupan sendiri. Syukur alhamdulilah, aku beruntung punya suami yang baik dan bertanggung jawab.

Tapi, sekagum-kagumnya aku sama perjuangan temanku itu, ada penyesalan menyelinap di dada. Mungkin memang yang dialami oleh temanku itu sudah sangat berat ditanggung sendirian, sampe dia perlu menceritakan sebagian kecil dari dukanya itu ke teman-temannya. Aku menyesal kenapa dia seperti dengan mudahnya menceritakan segala keburukan suami, secara detail pula.

Sebagai seorang perempuan -setidaknya aku- rasanya ga pantas menceritakan begitu detail tentang keburukan suami. Karena menurut aku, itu berarti keburukan kita juga sebagai seorang istri? Entahlah… mungkin pendidikan agamaku masih terlalu minim untuk ngasih pandangan soal itu.

Tapi sekali lagi, aku salut sama ketegaran temanku itu. Dia masih bisa bekerja, mengurus 2 anak tercinta sambil selalu berusaha bersabar menghadapi cobaan atas kelakuan suaminya. Ntah apakah aku juga bisa sekuat dan setegar dia kalo hal yang sama terjadi sama aku..

Yaa Allah Yaa Rabb, lindungilah temanku itu. Kuatkan serta tabahkanlah selalu dia agar dapat menjalani segala cobaanMu… Amiinnn..


padaMu ku mengadu

Thursday Jan 22, 2009

Beberapa mingu belakangan ini, aku lagi ngadepin masalah yang lumayan berat. Masalah yang aku pikir udah berlalu, ternya balik lagi menghantui ku.

Berat rasanya helaan napasku akhirakhir ini. Seakan dada ini mau meledak. Karena aku ngerasa, masalah yang ku hadapi menjadi semakin berat setiap kali aku bernapas. Kadang aku berpikir, mungkin kalo aku berhenti bernapas, akan berhenti juga masalahku.

Astaghfirullahallaziiimmm… Istighfar Savira Dwinanda. Jangan pernah punya pikran seperti itu. Seberat apapun keliatannyamasalah yang kita hadapi, pastinya kita akan kuat menghadapinya. Selalu ingat janji Allah SWT, bahwa Allah tidak akan pernah memberi cobaan kepada manusia melebihi kemampuannya.

Saat ini, waktu aku duduk di bis. Termenung. Sendiri. Ingatan akan masalah itu datang lagi. Bertubitubi. Sesak rasanya dada ini. Sakit rasanya kepala ini. Bingung tak terkira hati ini, tapi alhamdulillah ku masih mengingatNya. Menyebut namaNya dalam setiap helaan nafasku. Memohon pertolonganNya, agar aku selalu diberi kekuatan yang berlimpah, sehingga aku mampu menjalani apapun cobaan yang dihadiahkanNya untukku. Agar aku takkan pernah lupa akan kekuasaan dan kebesaranNya.

Yaa Allah, Yaa Rahman Yaa Rachim… Hanya Engkau tempat aku mengadu. Dengarkanlah doaku Yaa Allah…. Doa seorang yang mungkin seringkali lupa akan anugerahmu yang berlimpah, seorang pendosa. Namun aku mohon pada Mu ya Allah, berilah selalu kekuatan padaku, dalam menghadapi segala cobaanmu. Karena aku percaya aku hanya akan mampu melaluinya hanya dengan bantuanMu.

Dalam setiap helaan napas ini Yaa Allah, hamba mengingatMu, mengadu dengan lirih, memohon dengan sangat, agar selalu dalam lindunganMu dan selalu diberikan kekuatan. Hamba mohon Yaa Allah, karena hanya padaMu hamba mengadu….. Berilah hamba petunjuk. Bimbinglah hamba untuk selalu berada dalam jalan yang Engkau ridhai… Berikanlah selalu kekuatan agar apapun akhir dari masalah yang aku hadapi ini, aku bisa dengan tegar menghadapinya. Bimbinglah aku agar dapat selalu pasrah dan bersabar dalam menghadapi segala kesulitan hidup namun tetap dapat berdiri tegar menghadapinya. Amiiiinnn….


lagi sedih

Thursday Nov 13, 2008

Ga tau kenapa, auranya sedih aja. Mungkin karena aku sekali lagi sadarkan, bahwa sekuat apapun kita, kehilangan salah satu orang terdekat merupakan hal yang sangat berat. Apalagi kehilangannya bukan karena hal yang ‘signifikan’ *at least menurutku*.

Dua hari ini, aku kehilangan seorang sahabat (lagi). Sedih? Udah pasti. Karena sejujurjujurnya aku ga pengen banget kehilangan dia. Seperti yang pernah aku tulis, punya sahabat 1 trilliun orang pun akan selalu kurang, secara kita adalah mahluk sosial, yang selalu butuh teman dan sahabat disekeliling kita.  Tapi aku udah ga bisa berbuat apaapa. Secara aku dan dia selalu berdebat tentang hal yang sama, tapi memandang hal yang sama itu dari 2 sudut pandang yang beda. Pastinya susah dong ketemu common ground-nya.

Aku dengan segala ke-keukeuhanku, menyatakan segala keberatan kenapa harus ‘tidak’ berteman lagi, sementara dia juga dengan segala pernyataan yang pada akhirnya mematahkan keukeuh-nya aku. Bukan apaapa. Aku memang juara keukeuh dan aku bisa berulang kali, berputarputar dan tetap berpegang teguh pada pendapatku, tapi semua itu untuk apa? Kalo hasilnya bikin dia tersiksa (hehehe..emang diapaain ya??) – well at least ngga nyaman- dengan pertemanan kita? I am not that kind of person. Aku maunya dalam berteman itu nyaman untuk duaduanya.

Tapi ternyata emang berat ya kehilangan sahabat itu. Whatever the reason. Setiap hari itu hampir aku lupa untuk ngga nge-buzz or bertanyatanya tentang halhal ga penting or penting. Pokoknya I miss those day deh. Sekarang aja, tiap kali liat namanya popped up di jendela maya, hmm..mau komen tapi takut ngganggu… tapi yang paling utama sie, aku udah janji ga bakal ganggu2 lagi. Sedih ga sie?

Udah ah, sekarang mah gimana caranya menjalani apa yang ada di hadapan dengan tenang. Mudahmudahan akan diberikan kemudahan dan ketabahan… amiiin……


– prihatin –

Wednesday Aug 20, 2008

Kemarin seperti harihari sebelumnya aku pulang nge-bis. Setelah nunggu sekian menit di halte, akhirnya bis nomor 16 jurusan Rawamangun Lebakbulus lewat dihadapanku. Alhamdulillah kosong, jadi aku bisa duduk dengan tenang.

Sebenernya ga ada kejadian aneh di dalam bis itu. Hanya dalam hitungan menit, bis sudah dipenuhsesaki oleh penumpang. Sekali lagi, Alhamdulillah aku duduk.

Bis melaju dengan kecepatan biasa aja. Walau kadang selap sana salib sini. Termasuk biasalah dalam kategori bisbis yang melaju di Jakarta.

Karena lelah, mataku mulai terpejam. Ceritanya mau menikmati perjalanan pulang dengan bobo santai di bis. Tapi, baru sekitar 5 menit memejamkan mata, tibatiba aku merasa sesuatu menyentuh tanganku. Kaget, aku terbangun.

Ternyata ada anak kecil baru saja menaruh satu buah amplop ditanganku. Pengamen cilik, dan ini benarbenar cilik. Berdua dengan sang kakak yang aku tebak paling tua baru menginjak kelas satu SMP, si pengamen cilik ini (sekali lagi benarbenar cilik !!) mulai bernyanyi, kalo ga mau dibilang teriak, secara cara nyanyi mereka yang bergantigantian tanpa nada yang jelas. Mereka nyanyi lagu itu lowh… aduh kok aku lupa judulnya ya. Tapi aku tau cerita tentang lagu itu. Lagu yang sempat rame di infotainment secara ada anak gadis yang meninggal bunuh diri. kalo ga salah sie anak gadis itu namanya gaby (or gebi).

Nyesss….nelangsa rasanya. Sebagai ibu dari satu anak gadis kecil, aku ngerasa kok ya tega sie yang jadi orang tua. Ngebiarin anaknya yang masih kecil, aku yakin itu anak belum genap 5 tahun, untuk ngamen di bis kota, waktu hari udah masuk malam lagi.

Sebenernya ya aku juga ga bisa nge-judge orang tua si anak ya. Mungkin aja kan kehidupan mereka emang susah banget, sampe ngebolehin anaknya yang masih balita untuk ngamen.  Tapi sekali lagi, sebagai seorang ibu…aduh… rasanya kok ngenes banget ya.

Hari ini, terutama sore ini aku prihatin banget. Di usia negara kita yang udah 63 tahun, ternyata ga dibarengi sama kehidupan rakyatnya yang makin lama makin memprihatinkan. Sedih deh liatnya, apalagi waktu mereka selesai nyanyi dan mau turun dari bis. Si kakak nenteng gitar mbari nggendong adik kecilnya. Ikutan ngeri waktu kaki mereka menjejak di jalan ditengahtengah motor bersliweran.

Pikiranku langsung melayang ke anak kecilku di rumah. Rasa campur aduk antara sedih, haru dan bahagia berkecamuk (sedaaap bener bahasanya) di hati. Sedih, karena ga bisa berbuat banyak untuk anak kecil pengamen itu, tapi haru dan bahagia, karena mudahmudahan aku udah bisa memberikan yang terbaik untuk anak kecilku dirumah.

Mudahmudahan pemandangan tadi sore di bis itu ga berulang lagi dimasamasa datang. Caranya gimana? Aku serahkan sama bapak dan ibu yang ada di pemerintahan sana. Supaya Indonesia yang katanya gemah ripah loh jinawi bukan cuma slogan kosong, tapi memang bener adanya. Amiiinnnn…..