Grow in Heart, not in Tummy

Monday Mar 11, 2013

Reading this beautiful post, from a must read blog that I read everyday. Just having an urge to also post it in my Blog. Just a reminder that there’s so much more of being a mother than just carry your child inside your wombs for 9 months. I just felt the words is so beautifully written and so true in sense I want to re-post it in my blog.

Here’s the few quotes that were written in that blog…

Biology is the least of what makes someone a mother. [Oprah Winfrey]

Adoption is when a child grew in its mommy’s heart instead of her tummy. [Anonymous]

My life has been shaped by the decision two people made over 24 years ago. They decided to adopt a child. They got me, and I got a chance at the kind of life all children deserve. [Karen Fowler – Reflections on Motherhood]

The beggarly question of parentage–what is it, after all? What does it matter, when you come to think of it, whether a child is yours by blood or not? All the little ones of our time are collectively the children of us adults of the time, and entitled to our general care. That excessive regard of parents for their own children, and their dislike of other people’s, is, like class-feeling, patriotism, save-your-own-soul-ism, and other virtues, a mean exclusiveness at bottom. [Thomas Hardy – Jude the Obscure]

Was it the act of giving birth that made you a mother? Did you lose that label when you relinquished your child? If people were measured by their deeds, on the one hand, I had a woman who had chosen to give me up; on the other, I had a woman who’d sat up with me at night when I was sick as a child, who’d cried with me over boyfriends, who’d clapped fiercely at my law school graduation. Which acts made you more of a mother?

Both, I realized. Being a parent wasn’t just about bearing a child. It was about bearing witness to its life. [Jodi Picault – Handle with Care]

So? have you all agreed with me? it’s carefully chosen to describe what mothers are, she is not only someone who gave birth of you but someone who always be there for you, no matter what, even though she was not there when you see the world for the first time.


Tegar…

Wednesday Nov 25, 2009

Kemarin, aku makan siang sama temen SMA. Ga kerasa, kita itu udah ga pernah ketemu dari waktu luluslulusan SMA. Paling dulu pernah ketemu cuma haihai-an ajah. Ga pernah yang benerbener duduk lebih dari satu jam dan cerita panjang lebar tentang kejadian yang udah terjadi dikehidupan kita berdua (*tsah…hehehe…bahasanya euy).

Nah, seneng banget kan kmaren akhirnya bisa ketemuan dan ngobrol panjang lebar soal hidup kita berdua. Ngga kerasa banget kan, kalo kita udah ga jaman SMA dulu lagi. Waktu serasa berlari meninggalkan kita. Kalo lagi inget gini rasanya takut banget ya, sama kehidupan yang berlalu dengan cepat, sementara kayaknya kita gitu-gitu aja.

Tuker cerita sama temen, siapapun itu memang meyenangkan. Ini lagi temen yang memang sudah ga kedengeran beritanya sejak kita selesai SMA dulu. Seru banget bertukar ceritanya. Banyak rasanya cerita yang mau di-share. Pengennya sie terbatas hanya untuk cerita-cerita yang seru dan bahagia aja. Tapi seperti hal-nya hidup, ada ups and down-nya, tentu ceritanya juga ada yang seru gembira dan ada yang seru sedihnya.

Tapi makan siang kali ini, mungkin waktunya untuk yang sedih-sedih dulu. Temanku cerita tentang suka duka pernikahan yang udah dia jalanin selama kurang lebih 10 tahun. Kebetulan aku juga kenal sama suaminya. Malah kenal ama suaminya duluan baru sama dia. Suaminya itu temen ku semasa smp dan sma di Bogor. Mereka berdua ketemu dan mulai pacaran juga waktu masih sma dulu. Kalo diinget-inget sie, kayaknya mereka bisa dibilang pasangan yang lumayan cihuy dan serasi deh. Tapi itu kan dulu… Jaman pacaran… Dimana ada istilah, masa pacaran semuanya indah, dunia serasa milik berdua, yang lain numpang *hehehehe garing yak*

Mungkin memang dalam setiap pernikahan itu, pasti ada aja masalah, karena menyatukan 2 kepala untuk satu kata itu emang susah. Kuncinya tentu gimana caranya kompromi. Kapan harus ngotot dan kapan harus ngalah. Apalagi dijaman modern kayak sekarang ini. Walau hakikatnya istri harus nurut kata suami, tapi tetep harus ada kesepakatan yang di pegang berdua supaya ga ada yang ngerasa bisa semena-mena atau tersakiti.

Waktu aku duduk dengerin cerita temen ku itu, aku sampe kaget. Melongo. Bengong dan kehabisan kata-kata untuk berkomentar. Cuma paling sesekali aku kasih komentar, ‘masa sie???’

Sebagai seorang perempuan, denger curhat temen tentang pernikahannya yang bisa dibilang jauh dari happy, rasanya lebih menyayat hati deh. Kebayang langsung gimana kalo gini dan gimana kalo gitu…. Semuanya langsung dibandingin ama kehidupan sendiri. Syukur alhamdulilah, aku beruntung punya suami yang baik dan bertanggung jawab.

Tapi, sekagum-kagumnya aku sama perjuangan temanku itu, ada penyesalan menyelinap di dada. Mungkin memang yang dialami oleh temanku itu sudah sangat berat ditanggung sendirian, sampe dia perlu menceritakan sebagian kecil dari dukanya itu ke teman-temannya. Aku menyesal kenapa dia seperti dengan mudahnya menceritakan segala keburukan suami, secara detail pula.

Sebagai seorang perempuan -setidaknya aku- rasanya ga pantas menceritakan begitu detail tentang keburukan suami. Karena menurut aku, itu berarti keburukan kita juga sebagai seorang istri? Entahlah… mungkin pendidikan agamaku masih terlalu minim untuk ngasih pandangan soal itu.

Tapi sekali lagi, aku salut sama ketegaran temanku itu. Dia masih bisa bekerja, mengurus 2 anak tercinta sambil selalu berusaha bersabar menghadapi cobaan atas kelakuan suaminya. Ntah apakah aku juga bisa sekuat dan setegar dia kalo hal yang sama terjadi sama aku..

Yaa Allah Yaa Rabb, lindungilah temanku itu. Kuatkan serta tabahkanlah selalu dia agar dapat menjalani segala cobaanMu… Amiinnn..